Sabtu, 01 November 2008

Krisis Berulang-Ulang: Ada Apa dengan Pasar Global?

Oleh: Hidayatullah Muttaqin, SE, MSI

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman keras, perjudian, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. … “

(T.Q.S. al-Maidah ayat 90).

P

asar modal dunia tergoncang! Terhempas hanya dalam hitungan hari. Indeks Dow Jones anjlok begitu dalam sebesar 679 poin hanya satu hari (7,3%). Ini crash yang tertinggi dalam 21 tahun terakhir sejak black monday 1987. Crash Wall Street sangat ironi, sebab terjadi setelah paket bail out senilai US$ 700 milyar mendapatkan persetujuan Senat dan Kongres Amerika Serikat. Tidak hanya itu, “badai Wall Street” memaksa “tengkurap” bursa efek di Eropa, Asia, dan Australia. Bahkan Bursa Efek Indonesia (BEI) tutup tiga hari demi menyelamatkan IHSG dari kejatuhan yang lebih parah.

Goncangan pasar global (global market crash) pada tahun ini sudah dirasakan sejak Januari. Analis Standard & Poor’s (9/2), Howard Silverblatt menyatakan sangat sedikit tempat yang aman dalam berinvestasi di pasar modal pada bulan Januari 2008. Tercatat 50 dari 52 bursa saham global mengalami pertumbuhan negatif. Bahkan 25 di antaranya kehilangan dua digit. Laporan S&Ps menunjukkan kerugian para investor di bursa dunia dalam satu bulan mencapai US$ 5,2 trilyun. Suatu tingkat kerugian yang sangat fantastis, kurang lebih 53 kali penerimaan APBN-P 2008.

Selama Januari–Agustus 2008, sebagian bursa saham dunia anjlok sangat siknifikan. Indeks Dow Jones turun 10,04%, indeks Nikkei Jepang turun 13,98%, indeks Hang Seng Hongkong turun 20,59%, indeks Straits Times Singapura turun 18,48%. Penurunan paling besar dialami indeks Shanghai China 50,58% sedangkan IHSG BEI berada pada posisi 6 dengan tingkat keanjlokan mencapai 19,61%.

Perkembangan bursa saham dunia dalam satu tahun terakhir semakin parah seiring kebangkrutan bank investasi Amerika dan Eropa baru-baru ini akibat terlilit kebangkrutan subprime mortgage. Dalam periode 13/10/2007–14/10/2008 bursa utama dunia crash rata-rata di atas 30%. Bursa Wall Street kehilangan nilai lebih dari sepertiga. Indeks Nikkei Jepang loss hampir separonya sedangkan bursa saham Inggris juga kehilangan nilai lebih dari sepertiga. Kerugian paling parah dialami bursa saham China dengan tingkat loss sebesar 67,78%.

Bursa Efek Indonesia (BEI) termasuk yang mengalami kejatuhan terparah. Dalam satu tahun IHSG kehilangan nilai 41,02%. Sumbangan keanjlokan indeks yang paling besar terjadi pada tanggal 6 dan 7 Oktober 2008. Dalam dua hari IHSG anjlok 22,17% sehingga tinggal 1.451,66 poin jauh di bawah angka psikologis 2.000.

Pertanyaan paling mendasar dari peristiwa ini adalah; ada apa dengan pasar modal dunia?

Menciptakan Ekonomi Berbahaya: Bubble Economy

Bapak ekonomi Kapitalis Adam Smith membangun ajaran Kapitalisme dengan paradigma Laissez Faire. Menurut Adam Smith, setiap orang harus diberikan kebebasan untuk melakukan apa yang diinginkannya tanpa campur tangan negara. Prinsip ini mendorong mekanisme dan transaksi ekonomi, termasuk hukum dan perundang-undangan tunduk pada prinsip kebebasan kepemilikan dengan nilai-nilai materialistis yang “hampa” agama (sekularisme). Dengan ini manusia terpancing meraup keuntungan sebesar-besarnya (profit oriented) tidak peduli bagaimana cara memperoleh dan apa dampaknya bagi orang lain dan lingkungan.

Kapitalisme berkembang. Sistem ekonomi berevolusi menjadi perekonomian yang didominasi sektor moneter. Sedangkan sistem moneter dibangun atas tiga pilar, yaitu fiat money, fractional reserve requirement, dan interest. Ketiganya menciptakan transaksi derivatif di sektor finansial, yakni transaksi berbasis portofolio. Inilah yang menciptakan bubble economy.

Bank-bank komersial dan bank-bank investasi memberikan utang kepada masyarakat dengan mempertaruhkan sektor riil. Utang yang dipinjamkan oleh bank kepada masyarakat bukanlah uang yang dimiliki bank, melainkan uang masyarakat yang dihimpun oleh perbankan. Permasalahannya, bank komersial dengan peraturan fractional reserve requirement dapat memberikan utang kepada siapa pun melebihi dana simpanan nasabah yang dihimpun oleh bank. Makanya tidak aneh, ketika terjadi rush perbankan mana pun di dunia pasti ambruk.

Dalam kasus subprime mortgage, kalangan perbankan di Amerika dan Eropa (khususnya Inggris) berani memberikan kredit perumahan (semacam KPR) kepada warga kelas bawah yang memiliki kemampuan finansial lemah. Mereka berkeyakinan, tidak masalah dengan ketidakmampuan orang-orang miskin membayar cicilan kreditnya. Jika kredit gagal bayar, rumah disita sedangkan cicilan hangus. Bagi bank, rumah tersebut dijual lagi kepada warga miskin lainnya sehingga kredit berjalan lagi dan pendapatan masuk kembali.

Untuk membiayai kredit subprime mortgage, bank menerbitkan portofolio dan dijual di pasar modal. Selanjutnya, portofolio utang tersebut diperdagangkan oleh para fund manager dengan melibatkan jutaan orang. Masing-masing di antara mereka melakukan perdagangan dengan tujuan mendapatkan capital gain.

Nilai perdagangan portofolio berbasis subprime mortgage di pasar modal AS pada tahun 2007 mencapai US$ 20 trilyun. Sedangkan nilai buku utang warga AS dalam kredit subprime mortgage mencapai US$ 1,3 trilyun (Maret 2007). Artinya perdagangan utang warga miskin AS di pasar modal nilainya “menggembung” lebih dari 15 kali lipat.

Ketika terjadi “bom” gagal bayar kredit subprime mortgage karena semakin tingginya tingkat inflasi di tengah masyarakat, bank menghadapi kredit macet. Akibatnya bank pemberi kredit subprime mortgage kesulitan likuiditas, kehilangan kemampuan membayar kewajiban atas portofolio yang diterbitkan di pasar modal. Kondisi ini menyebabkan hilangnya kepercayaan para pemain di lantai bursa. Sehingga mendorong mereka melepas portofolio subprime mortgage secara massive yang mengakibatkan nilai pasarnya jatuh.

Hingga awal tahun 2008 kerugian para pemegang portofolio ini mencapai US$ 2,4 trilyun. Bank pemberi kredit subprime mortgage pun berjatuhan. Pemberi pinjaman subprime mulai bangkrut atau diakuisisi oleh bank lain. Sedangkan bank investasi yang terlibat perdagangan portofolio subprime juga mengalami kebangkrutan dan menyebabkan nilai saham mereka seperti “sampah”.

Misalnya sejak bank investasi Lehman Brothers mengumumkan kerugian US$ 3,9 milyar (10/9/2008), nilai pasar sahamnya terpangkas 95%. Kerugian Lehman Brothers menyeret perusahaan asuransi terbesar AS American International Group (AIG) ke dalam kebangkrutan. Pasalnya, AIG menanamkan dana yang sangat besar pada Lehman Brothers. Kerugian dua raksasa finansial AS di samping raksasa finansial lainnya, menyebabkan hilangnya ekspektasi dan kepercayaan para pemain bursa. Penggembungan uang dan utang inilah yang mendorong jatuhnya bursa Wall Street dan merembet ke belahan dunia lainnya.

Krisis subprime mortgage mendorong spekulan memindahkan aksi ke bursa komoditas. Mereka menggembungkan harga-harga komoditas primer khususnya harga minyak mentah. Akibatnya, gejolak harga crude oil dunia melonjak drastis yang menyebabkan inflasi membumbung. Dalam World Oil Outlook 2008, OPEC menyebutkan spekulasi di lantai bursa komoditas merupakan faktor utama yang mengerek harga minyak mentah.

Menurut OPEC, pada tahun 2003 setiap perdagangan 1 physical barrel di NYMEX akan diikuti 6 paper barrels. Tahun ini penggembungan perdagangan portofolio minyak mentah meningkat 3 kali lipat. Setiap transaksi 1 physical barrel akan diikuti 18 paper barrels.

Pada tahun 2007 nilai bubble economy dari transaksi derivatif di pasar modal dunia meningkat 5 kali lipat dibandingkan tahun 2002 yang berjumlah US$ 100 trilyun. Transaksi derivatif tahun 2007 di lantai bursa mencapai US$ 516 trilyun. Angka ini setara dengan 43 kali lipat nilai transaksi ekspor impor dunia tahun 2006. Sedangkan PDB dunia pada tahun 2007 hanya mencapai US$ 54,311 trilyun. Ini artinya, transaksi derivatif pasar modal melebihi nilai out put riil dunia sebanyak 9,5 kali lipat.

Inilah beberapa contoh bagaimana bursa saham dalam perekonomian kapitalis menciptakan bubble economy. Perekonomian yang menggembung seolah-olah memberikan gambaran pertumbuhan tingkat kesejahteraan dan ukuran ekonomi meningkat sangat cepat. Suatu kondisi yang sangat berbahaya. Sebab angka yang lahir bukan dari transaksi barang dan jasa melainkan dari instrumen-instrumen efek, dan dari penggelembungan utang. Tidak mungkin seseorang dapat bertransaksi melebihi dari uang tunai atau kekayaan yang dimilikinya, kecuali transaksi itu hanya ada dalam perekonomian kapitalis.

Warren Buffet dan Analis pasar modal Paul B Farrel menyatakan bubble economy di lantai bursa dapat menjadi senjata pemusnah massa (weapon of mass destruction) yang sangat kejam, lebih berbahaya dari senjata nuklir dan perdagangan obat bius. Perputaran uang di lantai bursa merupakan racun perekonomian (economy toxid). Dalam sekejap dapat membunuh perekonomian suatu negara, memiskinkan puluhan dan ratusan juta manusia.

Bubble economy sudah lama memakan korban. Menurut IMF, dalam kurun waktu 30 tahun terakhir 17 negera industri mengalami 113 kali goncangan sektor finansial dan separonya menyebabkan resesi. Bagaimana dampaknya terhadap dunia? Jawabnya kita sudah rasakan saat ini.

Menciptakan Kegiatan Ekonomi Berbasis Judi

Banyak orang yang berpikir bermain saham di lantai bursa merupakan sebuah inovasi investasi. Hanya dengan duduk sambil “memelototi” layar komputer yang tersambung internet atau cukup dengan mengangkat telepon, seseorang dapat meraup untung besar dalam sekejap. Seberapa besar keuntungan tergantung seberapa besar modal yang digelontorkan dan kecerdikan melihat kondisi pasar. Inikah yang dinamakan investasi?

Mari kita cermati pandangan paraih nobel Muhammad Yunus. Dalam wawancara dengan Spiegel Online, Muhammad Yunus mengatakan ketamakan telah merusak sistem keuangan dunia. Ketamakan menjadi “bahan bakar” pasar finansial. Akibatnya sistem keuangan dunia telah menjadi kasino. Dengan kata lain, bursa saham merupakan bursa judi dalam bentuk yang sangat inovatif.

Dalam perkara judi, Allah SWT dengan keras memasukkan perbuatan judi sebagai kegiatan keji termasuk perbuatan setan. Firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (T.QS al-Maidah 90).

Said Hawa dalam karyanya al-Islam, menerangkan yang dimaksud judi adalah segala bentuk pemindahan hak kepemilikan secara tidak rasional, penyiaan waktu secara tidak rasional, dan pelumpuhan produktivitas secara tidak rasional pula. Rasulullah SAW bersabda: “Siapa bermain dadu, maka sungguh berarti dia mencelupkan tangannya ke dalam (adonan) daging babi dan darahnya.” (HR Ahmad, Muslim, dan Abu Dawud).

Syekh Muhammad Mutawali Sya’rawi dalam Tafsir Sya’rawi Jilid 4 menerangkan setiap orang yang bermain judi mau melakukan permainan ini dengan harapan akan menang. Tidak mungkin ia akan berjudi jika sudah tahu pasti kalah. Jadi ekspektasinya meraih untung sebesar-besarnya. Jika ia menang, maka kemenangan tersebut malah semakin mendorongnya untuk terus bermain judi. Jika ia kalah, permainan ingin terus dilanjutkan agar memperoleh kemenangan untuk mengembalikan uangnya yang lenyap. Mereka mungkin saja menjual segala bentuk kekayaannya untuk bermain judi.

Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah Volume 1 menyebutkan ciri judi adalah mendapatkan keuntungan dengan cara yang gampang, tanpa lelah, untung-untungan (spekulasi), menyebabkan ketidakseimbangan, penipuan, berbahaya, dan menimbulkan benih permusuhan.

Segala transaksi di pasar modal bermuara pada arena zero sum game. Setiap keuntungan yang diperoleh mengakibatkan kerugian pada pihak lain. Dan keuntungan tersebut lahir dari transaksi yang sudah pasti spekulatif. Bahkan tidak jarang disertai penipuan dengan aksi goreng menggoreng, insider trading, dan juga short shelling. Aneka rupa portofolio pun dikembangkan, hutang diperdagangkan, sesuatu yang dalam Islam belum sah jadi miliknya pun diperjualbelikan, sampai-sampai sesuatu yang tidak jelas juga diperdagangkan.

Islam memperingatkan agar kaum Muslim memperoleh harta bukan dengan cara yang batil. “Hai orang-orang yang beriman! Jangan kamu makan harta kamu di antara kamu dengan cara yang batil, kecuali dengan jalan perdagangan dengan adanya saling kerelaan dari antara kamu.” (T.QS. an-Nisa’: 29). Kini kaum Muslim sudah banyak yang tidak mempedulikan lagi peringatan agama. Persis seperti yang dikatakan Rasulullah SAW: “Akan datang suatu masa di mana orang tak peduli akan apa yang diambilnya, apakah dari yang halal atau dari yang haram” (HR Bukhari). Dalam hadis lain Rasulullah bersabda: “Sungguh kalian akan mengikuti sunnah (cara/metode) orang-orang yang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sampai sekalipun mereka memasuki lubang biawak, kalian tetap mengikutinya.” Kami bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam seruan Rasulullah, kaum Muslim tidak hanya diminta meninggalkan yang haram. Yang subhat pun Rasulullah memerintah kita untuk meninggalkannya. “Sebenarnya yang halal itu jelas dan yang haram jelas pula. Di antara yang halal dan haram itu ada yang syubhat (tidak jelas), banyak orang tak mengetahuinya. Siapa yang menghindar dari syubhat, dia telah memelihara agama dan kehormatannya. Siapa yang terkena syubhat, maka dia terkena yang haram…” (HR Muslim)

Transaksi saham dan portofolio lainnya di pasar modal, apalagi di pasar sekunder adalah transaksi spekulatif. Para pemainnya disebut spekulator. Para pemain dari kelas “teri” hingga “raksasa” senantiasa berupaya menumpuk uang di lantai bursa. Akibatnya perputaran uang di sektor riil seret. Padahal masyarakat membutuhkan modal untuk usaha, apalagi saat ini pendapatan masyarakat sangat rendah dengan lapangan kerja yang sangat sempit. Allah SWT melarang perputaran uang hanya terjadi pada kelompok orang-orang kaya saja (lihat QS. al-Hasyar: 7) dan mengecam keras para penimbun uang (lihat QS. al-Taubah: 34).

Sebelum kejatuhan Bursa Efek Indonesia, setiap hari transaksi portofolio mencapai Rp 5 trilyun. Ini sangat ironi, mengingat pemerintah terus menumpuk utang terutama utang obligasi (SUN) karena ketiadaan dana untuk membiayai APBN. Lebih ironi lagi ketika utang negara telah menumpuk Rp 1.462 trilyun, sebagian transaksi dari pemain domestik mendapatkan pembiayaan dari bank. Sedangkan perbankan nasional sumber permodalannya berasal dari subsidi BLBI dan obligasi rekap dengan nilai pokok Rp 650 trilyun.

Penutup

Keserakahan manusia bersatu dalam sistem ekonomi Kapitalisme sehingga sistem ini begitu zhalim, menyiksa umat manusia, dan menciptakan kesenjangan yang sangat luar biasa. Tepat penilaian Muhammad Yunus, sistem keuangan Kapitalis dengan pasar modalnya telah menjadi arena perjudian.

Kaum Muslim tidak boleh masuk ke lobang yang sama untuk kedua kalinya. Demikian kata Nabi Muhammad SAW. Krisis finansial telah terjadi berulang-ulang dan sudah pasti akan datang lagi. Kebangkrutan pasar global dan dampaknya yang sangat berbahaya terhadap umat manusia disebabkan permasalahan sistem, yakni kerusakan ekonomi Kapitalisme. Karena itu dalam kegiatan ekonomi semestinya kita harus merujuk kepada Islam bukan kepada standar Barat yang sekuler. Marilah kita gali Islam sebagai sistem kehidupan yang harus diterapkan, yakni dengan memperjuangkan tegaknya syariah dan khilafah. []

Referensi

Amin, A. Riawan (2007), Satanic Finance, cet. i, Jakarta: Celestial Publishing.

an-Nabhani , Taqiyuddin (2002), Membangun Sistem Ekonomi Alternatif Perspektif Islam (an-Nizham al-Iqtishadi fii al-Islam), cet. vii, Surabaya: Risalah Gusti.

China Daily (10/2/2008), World bourses lost $5.2 trillion in January - S&P index division

Detik Finance (11/8/2008), Bursa Saham Dunia Berjatuhan di 2008, IHSG Turun 19,61%.

Farrel, Paul B (10/3/2008). Derivatives the New ‘Ticking Bomb’, Market Wacth.

Financial Times (14/10/2008), Market Data.

Hawa, Said, al-Islam Jilid II, Jakarta: al-Itisom.

Hizbut Tahrir (1998), Sebab-Sebab Kegoncangan Pasar Modal Menurut Hukum Islam (Hazzat al-Aswaq al-Maliyah Asbabuha wa Hukm as-Syar’i fii Nazihi al-Asbab), cet. i, Bogor: Pustaka Thariqul Izzah.

Khan, Adnan (2008), Kapitalisme di Ujung Tanduk: Tinjauan atas Krisis Global, Krisis Minyak, Krisis Pangan dan Bagaimana Sistem Ekonomi Islam Mengatasinya (The Global Credit Crunch and The Crisis of Capitalism), cet. i, Bogor: Pustaka Thariqul Izzah.

OPEC, World Oil Outlook 2008.

Shihab, Quraish, Tafsir al-Misbah Volume I.

Spiegel Online (10/10/2008), Capitalism Has Degenerated into a Casino.

Skounsen, Mark (2006), Sang Maestro Teori-Teori Ekonomi Modern, cet. ii, Jakarta: Prenada Media.

Sya’rawi, Syekh Muhammad Mutawali, Tafsir Sya’rawi Jilid 4.

The Independent (10/10/2008), Panic sends Dow to its worst crash in 21 years.

Wikipedia, List of countries by GDP (nominal).

Dampak Krisis Keuangan Global Bagi Indonesia Tidak Terlalu Besar

7 Oktober 2008 | 16:45 WIB


Jakarta ( Berita ) : Pengamat ekonomi Eric Sugandi mengatakan, krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat dan Eropa yang berdampak negatif terhadap negara-negara lainnya, tidak berimbas terlalu besar bagi Indonesia.

Hal ini disebabkan net ekspor Indonesia ke luar negeri hanya 10 persen dari total produk domestik bruto (PDB), kata ekonom dari Standard Chartered Bank ini, di Jakarta, Selasa [07/10] .

Ia mengatakan, ekspor Indonesia ke luar negeri terdiri dari migas dan non migas. Dari 80 persen hasil non migas Indonesia hanya 12 persen di ekspor ke Amerika Serikat, jadi pengaruhnya tidak besar.

Pasar ekspor utama Indonesia adalah Jepang dan Singapura, kedua negara tersebut sangat merasakan dampaknya dari krisis keuangan global itu. “Dampak ikutan itu yang dikhawatirkan akan memberikan pengaruh yang sangat tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional,” jelasnya.

Karena itu, lanjut dia, pemerintah harus dapat menjaga konsumsi rumah tangga yang nilainya cukup besar sekitar 60 persen dari total PDB. Kami optimis pemerintah telah memperhitungkan hal tersebut dan segera melakukan berbagai kesiapan untuk menjaganya lebih jauh, ujarnya.

Pemerintah, katanya, juga harus cepat melakukan kebijakan lain seperti mendorong pertumbuhan sektor riil yang selama ini dinilai masih berjalan di tempat dan memberikan kemudahan investasi yang lebih baik agar investor asing merasa senang, nyaman dan mudah menanamkan dananya.

Apabila ini bisa terjadi maka pertumbuhan ekonomi nasional akan tetap tumbuh di atas 6 persen, meski gejolak krisis keuangan di Amerika Serikat dan Eropa masih belum reda, katanya.

Ke depan, menurut dia, Indonesia akan semakin tumbuh didukung oleh turunnya harga komoditi dan energi khususnya minyak mentah dunia yang saat ini mencapai di bawah 90 dolar AS per barel.

Jadi tekanan krisis keuangan global itu akibat kepanikan pelaku pasar, meski pemerintah AS telah mendapat persetujuan kongres mendapat dana talangan sebesar 700 miliar dolar AS, katanya.

Sementara itu, Managing Director Advisory Group in Economics, Industry and Trade (Econit), Henry Saparini mengatakan, pemerintah diminta tidak hanya memompa sikap optimistis menghadapi krisis keuangan di Amerika Serikat dan Eropa.

Pemerintah harus mampu mengamankan sistem ekonomi secara menyeluruh, karena ekonomi dalam negeri saat ini lebih rapuh dibanding krisis 1998, katanya.

Ia mengatakan, sikap optimistis bahwa kondisi ekonomi cukup kuat menghadapi krisis, justru bisa berakibat buruk karena secara riil ekonomi nasional sangat tidak kondusif.

“Yang penting dari semua itu adalah perlunya optimalisasi dan percepatan pencapaian target dari berbagai program yang telah dijalankan, termasuk mempercepat reformasi birokrasi,” katanya.

Ia juga menyoroti, sistem birokrasi yang masih belum dapat dikendalikan dengan baik mengakibatkan daya saing produk dan jasa yang dihasilkan di dalam negeri sulit untuk bersaing baik di pasar internasional maupun di dalam negeri.

“Tidak mudah kembali ke produk dalam negeri, karena produk impor murah dan berkualitas sudah merajai pasar dalam negeri. Ini artinya pemerintah harus lebih serius dalam mengatasi masalah-masalah ekonomi domestik, dengan menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih luas lagi,” ucapnya. ( ant )

Minggu, 26 Oktober 2008

Ekonomi India Tinggal Landas
Tata Steel Akuisisi Krakatau Steel
Berita ekonomi awal bulan Mei 2008 yang menarik perhatian dan bahkan
mengejutkan berbagai kalangan di Indonesia adalah berita bahwa Tata Steel dari India
berminat untuk mengakuisisi Krakatau Steel (Bisnis Indonesia, 9 Mei, 2008, halaman 1).
Ditambahkan bahwaTata Steel dari India
berminat untuk mengakuisisi Krakatau Steel (Bisnis Indonesia, 9 Mei, 2008, halaman 1).
Ditambahkan bahwa Tata Steel akan bertemu dengan Menteri Perindustrian RI pada
pertengahan Mei ini untuk menyampaikan minat akuisisinya tersebut. Berita ini menarik
karena disatu pihak, Krakatau Steel merupakan salah satu icon dari ekonomi Indonesia,
dan dilain pihak perusahaan yang akan mengakuisisi bukan merupakan korporasi yang
biasanya akan datang dari negara yang telah maju tetapi korporasi yang datang dari India
yang merupakan sesama negara yang masih membangun. Berita ini juga mengejutkan
karena baru satu dasawarsa yang lalu Indonesia masih dianggap sebagai salah satu negara
dari Asian Miracle sedang India masih dianggap sebagai negara yang pertumbuhannya
lamban. Bahkan pada pertengahan tahun 1990an telah berkembang polemik di kalangan
pengusaha, negarawan, dan akademika terkemuka Asia tentang India yang sebagai negara
demokratis tumbuhnya lamban sedangkan China sebagai negara yang waktu itu lebih
otokratis dapat tumbuh dengan kecepatan sangat tinggi. Teori yang dominan saat itu dan
sampai sekarang adalah bahwa suatu negara akan lebih mungkin tumbuh dalam sistem
politik yang demokratis daripada yang otokratis.
Tanda-tanda bahwa India telah mulai tumbuh sebagai ekonomi yang harus
diperhitungkan, paling tidak di kawasan Asia, sebenarnya tidak bermula dengan minat
Tata Steel untuk mengakuisisi Krakatau Steel. Pada tahun 2007, Tata Power, salah satu
perusahaan dari Kelompok Tata, telah mengakuisisi sebagian dari pertambangan batu
bara milik Bumi Resources (Kelompok Bakrie). Gerakan gencar lain dari korporasi India
dan yang lebih nyata bagi masyarakat Indonesia adalah upaya pemasaran sepeda motor
Pulsar yang diproduksi kelompok usaha Bajaj. Selama empat dasawarsa terakhir
masyarakat Indonesia hanya mengenal kendaraan roda tiga “bajay” sebagai kendaraan
umum bagi masyarakat pendapatan menengah ke bawah. Munculnya Pulsar 200cc
dengan harga Rp 18 juta telah dapat menyaingi sepeda motor Tiger buatan Honda yang
harganya Rp 23 juta. Bajaj telah mulai memasarkan Pulsar 220 cc dan sedang
memikirkan untuk memasarkan Pulsar 300cc. Bahkan Bajaj saat ini mentargetkan
penguasaan pasar sepeda motor Indonesia, yang merupakan pasar sepeda motor ketiga
terbesar di dunia, untuk terlebih dahulu menandingi dominasi sepeda motor Jepang.
Sasaran berikutnya adalah negara-negara di Asia lainnya dan negara-negara Amerika
Latin. Berbagai korporasi India lainnya juga telah memperluas sayapnya keseluruh
belahan dunia. Misalnya, Bharti Airtel, sedang menandingi China, khususnya China
Mobile, untuk memasuki pasar telekomunikasi Afrika Selatan.
Pertumbuhan Ekonomi India Ditopang Oleh Kemajuan Teknologi dan SDM
Kemajuan dan gencarnya para korporasi India telah ditopang oleh kemajuan yang
mendasar di bidang teknologi dan sumber daya manusianya. Suatu prestasi yang telah
mengejutkan dunia adalah ketika India mampu menghasilkan bom nuklir pada akhir
tahun 1990an. Suatu prestasi lain di bidang pengembangan teknologinya adalah pusat IT
di Bangalore yang juga disebut sebagai “Silicon Valley” India. Di bidang teknologi
persenjataan moderen India juga telah semakin maju. Pada tanggal 14 Mei, 2008,
Page 2
Perdana Menteri Mamohan Singh telah meresmikan DRDO (Defence Research and
Development Organisation/Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pertahanan) India
mengatakan bahwa industri nasional India akan dalam waktu dekat mampu untuk
mengembangkan teknolgi mutakhir senjata robotics, sensor dan stealth (teknologi untuk
pesawat tempur yang tidak dapat dideteksi radar). Sementara itu, di bidang
pengembangan sumber daya manusia, India telah berhasil membuat negaranya menjadi
sasaran “outsourcing” (mengontrakkan pekerjaan suatu perusahaan kepada tenaga
perusahaan lain) oleh negara IT utama seperti AS, selain telah memungkinkannya untuk
menopang kemajuan industri teknologinya sendiri, seperti di Bangalore. Keberhasilan
India di bidang SDM ini disebakan oleh strategi pembangunan pendidikannya yang
memprioritaskan pendidikan ketrampilan tinggi untuk beberapa kelompok siswa tertentu
daripada strategi pembangunan pendidikan dasar seperti wajib belajar 6 tahun dan
sekarang 9 tahun yang diterapkan di Indonesia.
Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan ekonomi India untuk beberapa tahun setelah 1984 di tunjukkan pada
Tabel I di bawah. Pertumbuhan ekonomi India yang rata-rata di atas 8,0% terjadi setelah
tahun 2002. Pertumbuhan yang secara konsisten tinggi ini sebenarnya berkaitan erat
dengan perkembangan sektoralnya dan dengan dengan langkah-langkah reformasi
ekonomi yang telah dilakukan sejak tahun 1984.
Tahun
Pertumbuhan
Ekonomi (%)
1985
4,5
1986
4,1
1987
3,6
1988
10,1
1989
6,7
2000
4,0
2001
5,9
2002
3,9
2003
8,6
2004
7,6
2005
8,2
2006
9,1
Sumber: Economywatch.com
Pertumbuhan ekonomi India itu disertai oleh pertumbuhan sektoral yang
semestinya terjadi di negara-negara berkembang yaitu pertumbuhan industri dan jasa-
jasa yang relatif tinggi dan pertumbuhan sector pertanian yang relatif rendah. Pada tahun
2006 pertumbuhan ekonomi sebesar 9,1 % disertai oleh pertumbuhan sektor industri
sebesar 10,5 %, sector jasa-jasa, seperti hotel, restoran dan transpor, sebesar 10,7 %,
sektor pertanian sebesar 1,7 % dan sektor infrastruktur sebesar 7,8 %. Walaupun
pertumbuhannya lebih rendah daripada sector industri, pertumbuhan sektor pertanian
dapat menopang pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan melalui produksi pangan
yang terus meningkat. Dengan tahun dasar 1981 (1981 = 100), maka produksi beras telah
Page 3
meningkat dari 149 pada tahun 1990 menjadi 171 pada tahun 2004, dan produksi gandum
meningkat dari 156 pada tahun 1990 menjadi 204 pada tahun 2004. Pertumbuhan
ekonomi yang terutama tinggi sejak tahun 2003 tersebut juga ditopang oleh tingginya
tingkat tabungan masyarakat sebesar rata-rata 32 % terhadap PDB, terdapatnya “dividen
demografi” (meningkatnya kelompok penduduk usia kerja) yang disertai dengan
kebijakan peningkatan sumber daya manusia yang cukup berhasil.
Pertumbuhan ekonomi yang secara konsisten tinggi sejak tahun 2003 juga
dilatarbelakangi oleh adanya langkah liberalisasi sejak tahun 1984. Sebelum tahun 1984,
kebijakan ekonomi India didominasi oleh pengembangan industri subsititusi impor yang
membutuhkan banyak kebijakan proteksi atas industri dalam negeri melalui berbagai
kebijakan perizinan (dikenal sebagai “license raj” = rejim perijinan). Karena kebijakan
perijinan ini hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang rendah, maka pada tahun
1984 Perdana Menteri Rajiv Gandhi (dari Congress Party) mengecualikan sekitar
duapuluhlima jenis industri dari keharusan mengikuti kebijakan perijinan ini dan
mengadakan langkah liberalisasi bagi banyak cabang industri lainnya. Pada tahun 1991,
karena kesenjangan investasi dalam negeri dengan tabungan dalam negeri yang semakin
besar, maka Perdana Menteri Rarashima Rao (dari Bharatiya Janata Party) mengambil
langkah-langkah liberalisasi yang jauh lebih luas lagi dengan misalnya mengecualikan
kebijakan perijinan bagi semua cabang industri dan membuka luas pintu untuk investasi
asing. Langkah-langkah inilah merupakan embrio dari perekonomian India “go global”
yang dampak mikronya terlihat antara lain dari upaya Tata Steel mengakuisis Krakatau
Steel di Indonesia.
Pertumbuhan Ekonomi India Bukan Tanpa Masalah
Dalam sistem politik India yang menganut sistem kabinet parlementer (Presiden
hanya sebagai Kepala Negara sedang Kepala Pemerintahan dipegang oleh Perdana
Menteri) maka setiap kebijakan pemerintah yang bersifat strategis, seperti langkah
liberalisasi, harus melalui proses perdebatan publik yang sengit terutama di tingkat
parlemen. Dalam hal ini, walaupun Congress Party dan Bharatiya Janata Party sehaluan,
pihak oposisi yang terdiri dari partai politik berhaluan sosialis semakin menentang
langkah liberalsisasi lebih lanjut. Hal ini akan menghambat pembukaan lebih lanjut dari
ekonomi India ke ekonomi global dan selanjutnya akan mengurangi peluang untuk
pertumbuhan ekonominya.
Selain itu, motor utama dari pertumbuhan ekonomi India, terutama sejak 1991,
adalah perusahaan besar dan menengah, termasuk kelompok Tata dan Bajaj, yang
umumnya dikelompokkan dalam sektor formal. Walaupun, pertumbuhan dari sektor
formal ini mempunyai potensi untuk ikut menarik pertumbuhan dari sektor informal
(melalui “trickle down effect”), kenyataannnya sebagian besar dari sektor informal ini
mengamali peningkatan kesejahteraan yang masih jauh tertinggal. Belum berhasilnya
pertumbuhan ekonomi India yang tinggi ini untuk mempunyai “trickle down effect” yang
cukup besar juga terlihat pada masih tingginya tingkat kemiskinan. Dari data yang
tersedia, tingkat kemiskinan di India memang telah turun dari 50% (1970an) menjadi
38% (1991), namun jumlah ini masih sangat besar apalagi kalau ditinjau dari angka
absolutnya yaitu dari jumlah penduduk India yang mendekati satu milyar orang.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi ternyata juga belum dapat menyelesaikan
masalah adanya kesenjangan pertumbuhan ekonomi antar negara-bagian. Suatu studi
Page 4
(Catriona Purfield, “Mind the Gap – Is Economic Growth in India Leaving Some States
Behind?”, IMF Working Paper), telah menunjukkan bahwa kesenjangan pendapatan
antara negara-negara bagian yang kaya dan negara-negara bagian yang miskin telah
menjadi semakin melebar, bahwa negara-negara bagian yang miskin kurang berhasil
dalam menarik investasi swasta dan dalam menciptakan lapangan kerja, bahwa adanya
mobilitas modal dan tenaga kerja antara berbagai negara bagian ternyata tidak
mempunyai dampak yang berarti bagi penurunan kesenjangan pendapatan antara negara
bagian (catatan: temuan ini berbeda dengan pandangan Michael Spence ketika
menyampaikan presentasinya di Bappenas), dan bahwa negara-negara bagian yang
miskin mengalami fluktuasi pertumbuhan ekonomi yang paling besar.
Beberapa Catatan Tentang Pertumbuhan Ekonomi India dan Maknanya Bagi
Perekonomian Indonesia.
Ekonomi India yang pertumbuhannya nampaknya akan terus berlangsung pada
tingkat yang tinggi dapat dikategorikan sebagai perekonomian yang menurut teori
tahapan pertumbuhan ekonomi (W.W. Rostow, Stages of Economic Growth) telah
mencapai tahap “tinggal landas”. Syarat-syarat tinggal landas, yaitu tingkat tabungan
yang minimal 5% terhadap PDB, berkembangnya beberapa industri unggulan, dan
adanya sistem politik dan sosial budaya yang menopang pertumbuhan, telah terpenuhi.
Dilain pihak, syarat yang dikemukakan Spence (Michael Spence, Paparan di Bappenas)
untuk mencapai “sustained high and inclusive growth” belum sepenuhnya terpenuhi. Ini
disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi India yang tinggi belum disertai oleh cukup
meningkatnya kesejahteraan sektor informal dan masih banyaknya negara bagian yang
tertinggal. Bagi Indonesia hal ini merupakan pelajaran bahwa tujuan mencapai
pertumbuhan ekonomi tinggi yang kurang didesain secara cermat cenderung disertai oleh
adanya berbagai kesenjangan ekonomi dan sosial, yang karena sifatnya yang tidak
inklusif ini dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi itu sendiri menjadi tidak
berkelanjutan. Hal ini perlu diwaspadai mengingat diterapkannya desentralisasi/otonomi
daerah dapat membangkitkan ego daerah yang tinggi sehingga akan menuju pada makin
besarnya kesenjangan ekonomi antar daerah.
Perbedaan sistem politik India dan Indonesia dapat lebih menguntungkan upaya
peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sebagaimana dibahas di atas, walaupun
sama-sama negara yang demokratis, sistem pemerintahan India berbentuk kabinet
parlementer yang dipimpin seorang perdana menteri, sedangkan yang di Indonesia
merupakan kabinet presidensial yang dipimpin seorang presiden. Dalam pada itu, proses
pengambilan keputusan suatu kebijakan publik, akan melibatkan pembahasan publik
yang lebih panjang dan keras pada sistem kabinet parlementer daripada di sistem kabinet
presidensial. Contohnya, di India, langkah-langkah yang harus cepat diambil untuk
menggerakkan roda ekonomi sempat terhambat oleh keberatan dari berbagai partai
oposisi atas pandangan partai yang berkuasa saat itu (Bharatiya Janata Party).
Namun pengalaman India yang hikmahnya perlu dipetik Indonesia adalah bahwa
motor pertumbuhan ekonomi terletak pada semangat berwiraswata dari dunia usahanya.
Bagi Indonesia, yang dalam RPJPN 2005-2025, akan mewujudkan bangsa yang berdaya
saing melalui perkuatan perekonomian domestik yang berorientasi dan berdaya saing
global (RPJPN Butir IV.1.2.) ini berarti harus semakin bangkitnya dunia usaha yang juga
dapat bertanding di arena global.

jurnal ekonomi

Dampak Krisis Keuangan Global Bagi Indonesia Tidak Terlalu Besar


7 Oktober 2008 | 16:45 WIB


Jakarta ( Berita ) : Pengamat ekonomi Eric Sugandi mengatakan, krisis keuangan yang terjadi di Amerika Serikat dan Eropa yang berdampak negatif terhadap negara-negara lainnya, tidak berimbas terlalu besar bagi Indonesia.

Hal ini disebabkan net ekspor Indonesia ke luar negeri hanya 10 persen dari total produk domestik bruto (PDB), kata ekonom dari Standard Chartered Bank ini, di Jakarta, Selasa [07/10] .

Ia mengatakan, ekspor Indonesia ke luar negeri terdiri dari migas dan non migas. Dari 80 persen hasil non migas Indonesia hanya 12 persen di ekspor ke Amerika Serikat, jadi pengaruhnya tidak besar.

Pasar ekspor utama Indonesia adalah Jepang dan Singapura, kedua negara tersebut sangat merasakan dampaknya dari krisis keuangan global itu. “Dampak ikutan itu yang dikhawatirkan akan memberikan pengaruh yang sangat tinggi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional,” jelasnya.

Karena itu, lanjut dia, pemerintah harus dapat menjaga konsumsi rumah tangga yang nilainya cukup besar sekitar 60 persen dari total PDB. Kami optimis pemerintah telah memperhitungkan hal tersebut dan segera melakukan berbagai kesiapan untuk menjaganya lebih jauh, ujarnya.

Pemerintah, katanya, juga harus cepat melakukan kebijakan lain seperti mendorong pertumbuhan sektor riil yang selama ini dinilai masih berjalan di tempat dan memberikan kemudahan investasi yang lebih baik agar investor asing merasa senang, nyaman dan mudah menanamkan dananya.

Apabila ini bisa terjadi maka pertumbuhan ekonomi nasional akan tetap tumbuh di atas 6 persen, meski gejolak krisis keuangan di Amerika Serikat dan Eropa masih belum reda, katanya.

Ke depan, menurut dia, Indonesia akan semakin tumbuh didukung oleh turunnya harga komoditi dan energi khususnya minyak mentah dunia yang saat ini mencapai di bawah 90 dolar AS per barel.

Jadi tekanan krisis keuangan global itu akibat kepanikan pelaku pasar, meski pemerintah AS telah mendapat persetujuan kongres mendapat dana talangan sebesar 700 miliar dolar AS, katanya.

Sementara itu, Managing Director Advisory Group in Economics, Industry and Trade (Econit), Henry Saparini mengatakan, pemerintah diminta tidak hanya memompa sikap optimistis menghadapi krisis keuangan di Amerika Serikat dan Eropa.

Pemerintah harus mampu mengamankan sistem ekonomi secara menyeluruh, karena ekonomi dalam negeri saat ini lebih rapuh dibanding krisis 1998, katanya.

Ia mengatakan, sikap optimistis bahwa kondisi ekonomi cukup kuat menghadapi krisis, justru bisa berakibat buruk karena secara riil ekonomi nasional sangat tidak kondusif.

“Yang penting dari semua itu adalah perlunya optimalisasi dan percepatan pencapaian target dari berbagai program yang telah dijalankan, termasuk mempercepat reformasi birokrasi,” katanya.

Ia juga menyoroti, sistem birokrasi yang masih belum dapat dikendalikan dengan baik mengakibatkan daya saing produk dan jasa yang dihasilkan di dalam negeri sulit untuk bersaing baik di pasar internasional maupun di dalam negeri.

“Tidak mudah kembali ke produk dalam negeri, karena produk impor murah dan berkualitas sudah merajai pasar dalam negeri. Ini artinya pemerintah harus lebih serius dalam mengatasi masalah-masalah ekonomi domestik, dengan menciptakan lapangan pekerjaan yang lebih luas lagi,” ucapnya. ( ant )

Artikel dalam kategori : Ekonomi